Dagelan Berseri Ala KPK Versus Polri

JAKARTA, NUSA PENIDA POST

Kadang kita marah melihat tingkah polah para pejabat negara yang sibuk ngurusin urusan pribadi, termasuk istri-istri yang tak terhitung, bukannya mengabdi untuk negeri. Namun juga sering tertawa geli menyaksikan kekonyolan mereka yang mirip dagelan ketika berebut jabatan dan kekuasaan, begitu rakus dan main seruduk sana-sini. Banyak pula pejabat negara yang justru memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, termasuk jika ada dendam pribadi, lembaga tempatnya bernaung pun ikut dibenturkan.

Dua lembaga negara, KPK versus Polri kembali berseteru adu gengsi

(Ilustrasi): Dua lembaga negara, KPK versus Polri kembali berseteru adu gengsi

Kali ini drama serial KPK vs Polri kembali tayang bahkan mengingatkan kita pada slogan ‘cicak versus buaya’ yang pertama kali didendangkan oleh Susno Duadji, sang mantan Kabareskrim. Saking hangatnya isu ini, sejumlah media televisi, koran dan media online kebanjiran rejeki. Meme berupa sindiran yang bertebaran di media sosial. Banyak yang berdemo ria namun ada juga yang menyindir dengan cara sederhana tetapi mengena, salah satunya sindiran lewat lagu yang dibuat oleh I Wayan Sukadana (25/1). Mantan aktivis mahasiswa ini mengaku ada banyak cara untuk mengingatkan para pejabat negara yang sedang berkonflik, salah satunya lewat seni lagu. Memang, masyarakat tidak mau ketinggalan sedikitpun berita seteru abadi kedua institusi penegak hukum ini.

“Daripada demo bikin rusuh, lebih baik pake cara yang cerdas namun mengena. Jadi lebih tepat sasaran lewat jalur seni,” ungkapnya saat ditemui di Klungkung Minggu, (25/1).

Perseteruan kedua institusi, KPK dan Polri memang tidak hanya kali ini saja. Tidak pada saat Budi Gunawan ditetapkan tersangka dan Bambang Widjayanto ditangkap Polri. Kisah KPK dan Polri sudah beberapa kali terjadi dan publik pun ternyata menanti. Layaknya sinetron mini seri, kisah klasik dua institusi ini menghiasi layar kaca dan cover depan media cetak. Tidak hanya sinetron ‘Tersanjung’ yang tayang hingga 6 episode, seolah tak mau kalah, KPK versus Polri kini masuk sesion ke-4 atau kerennya Cicak versus Buaya sesion 4 yang tayang di semua stasiun televisi.

Penangkapan mantan ketua KPK, Antasai Ashar dengan dugaan kasus pembunuhan menjadi intro awal drama awal KPK dan Polri. Konflik pun berlanjut ketika Bibit Samad dan Candra Hamzah bersitegang dengan Komjen Susno Duadji dengan judul ‘Cicak versus Buaya’. Cicak buaya laris manis di pasaran dengan pemeran pembantu Anggodo dan sejumlah piguran lain. Kasus ketiga adalah tentang penarikan penyidik KPK yang berasal dari Polri yakni Novel Baswedan. Rating kasus Novel kalau diibaratkan sinetron agak jeblok, tidak begitu mendapat perhatian masyarakat. Kini rating sinetron KPK versus Polri seperti iklan teh sedang ‘naik daun’. Jika pemimpin tertinggi tidak bisa meredam kasus ini, alhasil episode cicak buaya bisa terkalahkan bahkan menimbulkan kegaduhan hukum di republik ini. Tentu yang paling bahagia adalah para koruptor, bebas melenggang akibat tertundanya penanganan ribuan kasus.

Jutaan rakyat melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di republik ini. Rakyat pun tidak goblok-goblok amat bahwa pemangkapan salah satu komisioner KPK tidak terkait status tersangka Budi Gunawan. Rakyat hanya menarik nafas panjang kenapa penegak hukum malah saling intip satu sama lain, saling unjuk gigi hanya sekedar jaga gengsi. Para maling dan koruptor akan nyengir tertawa girang melihat para instusi negara anti rasuah ini berseteru. Wong mbok ya eling, intropeksi diri, kalian alat kelengkapan milik negara, institusi kalian bukan milik pribadi maupun kelompok.

Penulis: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi