Coral Bleaching Ancam Kelestarian Ekosistem Terumbu Karang

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Keindahan terumbu karang kepulauan Nusa Penida menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya yang menyukai wisata diving. Selain berbagai species karang yang ada, keberadaan mega fauna seperti mola-mola dan pari mantan juga menambah kekayaan bahari kawasan yang masuk global coral triangle (red; segitiga karang dunia). Sayangnya, hasil penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga lingkungan menemukan fakta mengejutkan, sejumlah titik kawasan terumbu karang mengalami pemutihan.

Pemutihan karang di sejumlah kawasan menjadi ancaman serius terhadap kelestarian terumbu karang

Pemutihan karang di sejumlah kawasan menjadi ancaman serius terhadap kelestarian terumbu karang

Ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup jutaan biota laut. Di berbagai belahan dunia, kondisi terumbu karang mengalami penurunan drastis, perubahan iklim global ditengarai menjadi pemicu hingga terjadi pemutihan karang. Gugusan karang great barrief reef  yang merupakan karang terbesar dunia yang berada di kawasan Asia Pasifik juga mengalami hal yang sama. Stress termal atau kenaikan suhu yang terlalu hangat memaksa karang untuk melepaskan alga (zooxanthellae) hingga membuatnya jadi putih. Seperti dikutip dari laman http://oceanservice.noaa.gov/, Jumat (26/3) Meski kenaikan suhu tidak sepenuhnya menjadi penyebab tetapi analisis awal setidaknya memberi gambaran serupa. Hasil penelitian juga menunjukkan tidak hanya kenaikan suhu, penurunan suhu yang dramatis juga menyebabkan terjadinya pemutihan karang.

Monitoring karang yang dilakukan Coral Triangle Center dan relawan dari Living Seas menghasilkan data baru. Observasi dilakukan pada 1 dan 10 Maret 2016 di kawasan Sanur dan Nusa Penida, hasilnya ditemukan pemutihan karang di kawasan Jeladi Willis, Sanur dan Lembongan Bay pada kedalaman 4 hingga 6 meter, namun tidak ditemukan indikasi pemutihan di kawasan Crystal Bay. Monitoring digelar untuk merespon peringatan dari citra satelit NOAA/NESDIS terkait kondisi ekologi.

“Umumnya karang yang mengalami pemutihan dari jenis montipora (encrusting dan foliose), porites (massive dan branching), seriatopora (branching), goniopora (massive), pectinia (foliose) dan sedikit dari family faviid (massive),” terang Marthen Welly dari Coral Triangle Center, Sabtu, (19/3) lalu.

Menurut Marthen, meski karang yang mengalami pemutihan tidka sepenuhnya mati tetapi bisa dipastikan terumbu karang berada pada zona tidak nyaman atau tidak sehat. Kondisi ini bisa menjadi indikator alami bahwa kondisi lingkungan sekitar karang tidak sehat. Di kawasan Lembongan Bay, setidaknya sekitar 25 – 30% karang mengalami pemutihan, sedangkan di Jeladi Willis berkisar 5-10% dari 520 meter panjang area pengamatan.

Diduga masih banyak kawasan terumbu karang di Bali yang mengalami coral bleaching. Hasil analisis awal, kenaikan suhu global menjadi penyebab utama disamping peningkatan konsentrasi karbondioksida yang dihasilkan dari berbagai aktivitas industri turut andil. Masuknya limbah buangan atau zat kimia lewat alur buangan sungai semakin membuat ekosistem tidak sehat termasuks ampah plastik yang masuk dan mencemari perairan.

Data hasil monitoring menjadi catatan tersendiri sehingga semua komponen bekerja sama melakukan analisis, berbicara tentang waktu dan upaya pemulihan hingga dampak buruk yang terjadi terhadap ekologi global. Terumbu karang adalah aset hayati yang harus dijaga agar dapat dikelola dengan lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku wisata bahari.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi