CI Inisiasi Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Bali

SANUR, NUSA PENIDA POST

Bali sebagai pulau kecil terus menghadapi berbagai permasalah ekologi dan tekanan besar terutama akibat pesatnya perkembangan pariwisata yang tidak terkontrol. Berbagai kegiatan pariwisata bahari yang tersebar di sejumlah kawasan membawa dampak negatif yang memicu munculnya problematikan lingkungan di daerah hilir. Fakta ini terungkap secara gamblang pada lokakarya yang digelar oleh Konservasi Internasional Indonesia (CI) di Hotel Werdhapura, Sanur (3/11). Lokakarya yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah seperti Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Bappeda Provinsi Bali, dinas terkait dan Bappeda dari masing-masing kabupaten, legislatif, akademisi, LSM, elemen masyarakat dan media massa ini mencoba mendorong dan mengimplementasikan pengelolaan Kawasan Konservsai Perairan (KKP) secara terpadu dan terintegrasi yang dituangkan dalam bentuk blue print  berupa konsep one island management.

Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Ir. I Made Gunaja, M.Si (52) menjelaskan bahwa jejaring menjadi media berbagi semua komponen sehingga ada persamaan persepsi dalam pengelolaan konservasi. Pengelolaan kawasan juga diharapakan tidak lepas dari kearifan lokal yang ada di setiap kawasan.

“Jejaring menjadi jembatan bagi para pihak untuk berbagi pengetahuan terkait pesisir dan laut. Jejaring KKP Bali mengadopsi konsep nyegara gunung (red; hulu-hilir), Tri Hita Karana dan Sad Kertih. Nyegara gunung secara filosofis  berarti laut dan gunung merupakan satu kesatuan. Apa yang terjadi di darat akan berpengaruh pada laut, demikian pula sebaliknya,” tambah Gunaja dalam pemaparannya.

Potensi jejaring Kawasan Konservasi Perairan Provinsi Bali

Potensi jejaring Kawasan Konservasi Perairan Provinsi Bali

Gunaja juga menggarisbawahi, pengelolaan yang tidak terintegrasi dan terkesan berjalan sendiri-sendiri rentan memicu konflik terkait status pemanfaatan kawasan strategis. Jika jejaring KKP Bali bisa berjalan optimal, konflik seperti ini dipastikan tidak ada sehingga pengelolaan bisa sinergis. Hal ini sejalan dengan Keputusan Gubernur Bali nomor 1590/03/J/HK/2013 tentang pembentukan kelompok kerja jejaring KKP Bali dalam satu wadah.

Semetara, I Made Iwan Dewantama (41) yang juga Manajer Jejaring KKP Bali mengungkapkan cetak biru jejaring KKP Bali dibentuk untuk optimalisasi pengelolaan dan pelestarian sumber daya pesisir dan laut. Dikhawatirkan dalam beberapa tahun kedepan, Bali akan kehilangan semua potensi jika salah kelola.

“Secara umum kondisi kawasan pesisir dan laut di Bali mengalami penurunan kualitas akibat pemanfaatan sumber daya perairan yang semakin tinggi sehingga tidak ada keseimbangan manfaat dan pelestarian. Ini yang menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem dan habitat,” terang Iwan dengan lugas.

Sesuai Permen No.60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, KKP merupakan salah satu pendekatan pengelolaan kawasan perairan dengan tata kelola yang mengedepankan partisipasi, transparansi, koordiinasi dan akuntabilitas. Jejaring KKP Bali setidaknya akan mengkoordinasikan tujuh kawasan KKP sebagai prioritas pengembangan yang terdiri dari KKP Buleleng, KKP Karangasem, KKP Nusa Penida, KKP Badung, KKP Jembrana, KKP Denpasar dan KKP Danau Batur Bangli.

Salah satu konsep jejaring KKP Bali adalah mendorong pemerataan pembangunan sektor pesisir dan kelautan sehingga rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) menjadi arahan dalam pemanfaatan dan perlindungan sumber daya pesisir dan kelautan masing-masing kabupaten. Direktur Kelautan Konservasi Internasional Indonesia, Tiene Gunawan yang berkesempatan menutup lokakarya kembali menegaskan cetak biru dan jejaring KKP Bali yang terbentuk harus mampu menjalan peran dan fungsinya menjadi pusat data dan informasi, mewujudkan kegiatan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas SDM, serta mengusulkan kebijakan terkait pengelolaan kawasan pesisir terpadu Bali (integrated coastal management).

“Cetak biru ini menjadi acuan dalam perencanaan pengelolaan kawasan perairan di Bali sampai tahap operasionalisasi. Jejaring yang terbentuk harus bisa menjalankan peran dan fungsinya sebaik mungkin, itu tanggung jawab kita bersama,” tutupnya yang diikuti tepuk tangan.

Reporter & Editor: I Gede Sumadi