Cegah Rabies, Puluhan Anjing Liar Dimusnahkan

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Rabies menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Penyakit menular ini menimbulkan infeksi tingkat akut pada neuroinvasive ensefalitis (red; radang otak) akibat virus rabies yang bersifat zoonotik, artinya bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Dalam bahasa keseharian, rabies juga disebut penyakit anjing gila

Virus yang masuk ke keluarga rhabdoviridae dan genus lysavirus hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan. Dalam beberapa kasus, infeksi bisa terjadi karena gigitan dan jilatan hewan penular pada kulit yang luka. Gejala awal ditandai dengan malaise, sakit kepala dan demam, kemudian nyeri akut, gerakan kekerasan, gelisah, depresi dan kesulitan menelan.

Petugas melakukan pemusnahan anjing liar dengan tulup beracun

Petugas melakukan pemusnahan anjing liar dengan tulup beracun

Penyebaran penyakit rabies dinilai kian mengkhawatirkan mengingat jumlah korban semakin meningkat. Bertambahnya populasi anjing liar menjadi penyebab kurang terkendalinya rabies. Populasi anjing liar tidak hanya menjadi jejaring penyebaran rabies tetapi juga menjadi predator yang memangsa hewan ternak seperti diakui Ni Wayan Pasti, Senin, (5/5) lalu.

“Sudah hampir tiga anak sapi di banjar kami yang dimangsa kawanan anjing liar,” tutur Ni Wayan Pasti (45) asal Desa Sakti, .

Gerombolan anjing liar semakin meresahkan warga di Nusa Penida, selain penyebab rabies dan memangsa ternak warga, tak jarang anjing liar ini memicu kecelakaan lalu lintas yang berakibat fatal. Agus Harta Wijaya mengaku sempat merasakan kerasnya aspal akibat kawanan anjing yang berkeliaran di jalan raya.

“Sudah banyak pengendara yang jatuh akibat ulahnya, termasuk tiang dan tetangga. Seharusnya ada upaya nyata dari dinas terkait untuk menangani hal ini,” terangnya.

Guna meminimalisasi penyeberan rabies secara massal, UPT Peternakan Perikanan dan Kelautan Kecamatan Nusa Penida melaksanakan pemusnahan anjing liar secara bertahap. Kepala UPT Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan, I Nyoman Sangging menyebutkan pemusnahan bertahap di seluruh desa untuk mencegah penyakit rabies di Nusa Penida.

“Pemusnahan dilakukan pada sore sampai malam serta pagi hari, mengingat banyak aktivitas terjadi pada siang hari baik ditembak langsung maupun lewat makanan berupa pentol yang diisi racun didalamnya,” ujar Sangging (3/5).

Sangging menambahkan populasi anjing bertambah karena proses berkembangbiakan anjing cukup cepat. Banyaknya anjing yang datang dari luar daerah yang dibawa  tanpa memenuhi standar kesehatan bisa menjadi ancaman baru. Minimnya pengawasan di beberapa pintu penyeberangan membuat masuknya anjing dari luar yang sulit dideteksi. Pihaknya meminta agar masyarakat proaktif untuk memvaksin hewan peliharaan untuk mencegah penyebarluasaan rabies.

“Segera datang ke kantor kami untuk divaksin secara rutin hewan peliharaannya dengan waktu selam 4 sampai 6 bulan. Bagi warga yang tergigit anjing baik anjing peliharaan maupun liar agar segera melakukan penanganan darurat dengan membasuh luka gigitan menggunakan sabun. Kemudian segera ke puskesmas terdekat,” urainya.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi