Burung Endemik Dilepasliarkan di Taman Nasional Alas Purwo

BANYUWANGI, NUSA PENIDA POST

Friends of the National Parks Foundation (FNPF) atau yang lebih dikenal Yayasan Burung kembali melepasliarkan lima ekor burung langka berjenis merak Jawa hijau (Pavo muticus muticus). Sebelum dikembalikan ke alam liar, burung-burung tersebut ditangkarkan di pusat penyelamatan satwa liar di Tabanan, Bali. Pelepasan burung endemik ini dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur (18/11).

Pada press release-nya, Bayu Wirayudha selaku CEO FNPF, mengungkapkan bahwa pihaknya hampir satu tahun melakukan perawatan dan rehabilitasi untuk memastikan kemampuan burung-burung ini beradaptasi, selanjutnya di-release ke habitat aslinya.

“Kami telah merawat dan merehabilitasi burung-burung ini di pusat penyelamatan satwa liar kami di Tabanan, Bali. Saya sangat senang bisa memastikan untuk melepaskan mereka, sekarang, mereka kembali ke alam liar,” ungkap Bayu.

Salah satu dari 4 burung merak Jawa hijau yang dilepasliarkan di Taman Nasional Alas Purwo

Salah satu dari 4 burung merak Jawa hijau yang dilepasliarkan di Taman Nasional Alas Purwo

Pusat penyelamatan satwa liar (Bali Wildlife Rescue Centre)  yang dimiliki oleh PNPF merupakan satu dari tujuh pusat konservasi yang ada di Indonesia. Bali Wildlife Rescue Centre (BWRC) menyediakan perawatan dan pemulihan bagi satwa liar untuk dikembalikan ke habitat alaminya. Fasilitas ini mulai dibangun tahun 2011 dengan luas area mencakup 3.200 meter persegi. BWRC menjadi pusat perawatan, rehabilitasi dan pelepasan satwa asli yang terancam punah dimana sebagian besar dari mereka merupakan korban dari perburuan dan perdagangan satwa illegal.

Proses pelepasan yang disaksikan langsung oleh Kepala Manajemen Urusan Perlindungan Taman Nasional Wilayah Timur I Tegal dan dua perwakilan BKSA Bali didahului dengan prosesi upacara secara Hindu. Bayu berharap melalui upacara ini, burung yang dilepaskan tidak hanya dijaga oleh penjaga hutan tetapi juga diberkati oleh Tuhan sebagai penyeimbang alam. Tepat pukul 05.00, kelima burung dilepaskan dan menghirup udara kebebasan. Taman Nasional Alas Purwo adalah satu-satunya hutan alam yang masih terjaga dari praktek penebangan hutan liar. Hutan ini dinilai layak dan tepat sebagai habitat burung merak Jawa hijau.

“Burung-burung ini terlihat sehat dan tidak lagi jinak, ada banyak makanan dan air di hutan ini. Setelah dilepaskan, mereka langsung bergerak menuju semak-semak kemudian mengarah ke sungai, ini pertanda bagus bahwa mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan baru,” tambah Bayu.

Untung Susilo, Kepala Manajemen Urusan Perlindungan Taman Nasional Wilayah Timur I Tegal menyambut baik dan mendukung upaya pelepasan yang dilakukan oleh  FNPF. “Ini adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan populasi merak Jawa hijau. Mereka sudah dilepasliarkan dan tidak perlu dijaga sepanjang waktu oleh masyarakat ataupun lembaga konservasi karena rumah sejati mereka adalah alam liar,” tegasnya.

 

Made Sudarma yang juga hadir selaku perwakilan BKSDA Bali mengutarakan rasa terima kasihnya atas partisipasi Bali Wildlife Rescue Centre – FNPF dalam upaya untuk melindungi satwa langka.

“Saya sangat terkesan dengan pelepasan kali ini karena lokasinya sangat memenuhi syarat untuk melepaskan burung-burung ini. Binatang-binatang ini memang sudah seharusnya dilindungi dan dikembalikan ke habitat aslinya. Kami juga berterima kasih atas bantuan BWRC dalam upaya melestarikan satwa endemik. Kedepannya, kami berharap kepedulian tersebut semakin meningkat termasuk juga peran serta dari masyarakat,” harap Sudarma.

Di sela-sela kegiatan, Bayu Wirayudha merinci bahwa masih ada dua ekor merak Jawa hijau di pusat penyelamatan FNPF tetapi kondisinya belum memungkinkan untuk dilepaskan saat ini.

“Masih ada dua ekor burung merak tetapi belum siap dilepaskan karena yang satu mengalami cacat pada kaki sementara satunya lagi masih terlalu jinak. Kami akan mencari cara untuk menyiapkan kedua burung ini untuk bisa secepatnya dilepaskan,” tambah Bayu.

Editor: I Gede Sumadi & I Komang Budiarta