Bumi yang Tak Lagi Ramah Akibat Ulah Serakah Manusia

GIANYAR, NUSA PENIDA POST

Dalam beberapa dekade belakangan, isu lingkungan semakin sering diangkat pada tataran global. Badan Perserikatan Bangsa-bangsa bahkan sempat menggelar pertemuan yang khusus membahas masalah perubahan iklim. Berbagai bencan alam yang terjadi menunjukkan bumi semakin tak ramah akibat ulah manusia itu sendiri. Sumber daya alam dieksploitasi besar-besar tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Dampaknya, terjadi pergeseran pola iklim yang berpengaruh terhadap siklus kehidupan global. Sejumlah aktivis lingkungan pun mulai menyerukan pentingnya penyelamatan alam dari prilaku rakus manusia.

Pameran lukisan 'Niti Bumi' sebagai bentuk ajakan untuk lebih peduli terhadap bumi

Pameran lukisan ‘Niti Bumi’ sebagai bentuk ajakan untuk lebih peduli terhadap bumi

Komunitas Niti Rupa pun turut andil bersuara lewat pameran seni lukis yang bertajuk ‘Niti Bumi’ di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar. Pameran dibuka Jumat sore kemarin, (3/6) dengan pembacaan puisi Niti Bumi. Setidaknya ada 12 perupa yang terlibat dalam pameran kemarin, diantaranya I Wayan Redika, Made Wiradana, Made Supena, Umar Jelantik, Nyoman Sujana Kenyem, Teja Asmara. Nama lain seperti Made Galung Wiratmaja, Made Gunawan, Loka Suara, Puput Paramadika & Putu Bambang Juliarta ikut serta dalam pameran.

Seorang peserta pameran, I Wayan Redika mengkritik keras prilaku abai manusia terhadap lingkungan. Lewat karyanya, Redika mengingatkan agar manusia menghargai dan eling terhadap lingkungan. Ketika alam murka maka penghuninya pun dipastikan tidak selamat.

“Setidaknya, melalui pemeran ini mengajak dan peduli terhadap lingkungan. Betapa penting bumi, kerusakan bumi sudah tidak bisa tawar perlu intropeksi dan repleksi dalam diri menjaga bumi, ” ujar Redika meyakinkan.

Kurator I Wayan Sariyoga Parta bahkan menegaskan manusia hidup dari alam namun terkadang sikap egonya justru tidak berpihak pada alam. Ia mengajak agar planet bumi bisa menjadi rumah yang nyaman dengan cara menjaga bumi dan alam.

“Bumi telah memberikan segala tanpa pamrih namun manusialah terkadang lupa dan mementingkan ego. Ketika sudah parah baru ingat, mari jaga bumi ini untuk keberlangsungan hidup masa kini dan nanti,” ajaknya.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi