Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Budidaya Tembakau, Pekerjaan Sambilan yang Menguntungkan
 

Budidaya Tembakau, Pekerjaan Sambilan yang Menguntungkan

CEMULIK, NUSA PENIDA POST
I Nyoman Mara (71), petani asal Banjar Cemulik, Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung, yang dengan telaten berhasil membudidayakan tembakau. Tekstur tanah gembur dengan minim kandungan air yang mendominasi wilayah Nusa Penida sangat cocok dikembangkan tembakau. Cuaca kering yang melanda sejak akhir Juli lalu justru memberi berkah tersendiri bagi petani tembakau. Budidaya tembakau pada awalnya hanya untuk memenuhi konsumsi sendiri. Berkat sentuhan tangan kreatif dan perawatan yang baik, petani bahkan bisa menjual hasil panennya.

Nyoman Mara (71), salah satu petani tembakau di Banjar Cemulik, Desa Sakti.

Nyoman Mara (71), salah satu petani tembakau di Banjar Cemulik, Desa Sakti.

Budidaya tembakau yang dilakukan Mara melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah proses pembibitan. Biji tembakau yang telah dikumpulkan disebar pada tempat pembibitan berukuran 2 x 1 meter. Pembenihan dilakukan pada tempat teduh dan lembab agar benih cepat tumbuh. Jika benih sudah tumbuh dan berdaun tiga atau empat berarti benih sudah siap dipindahkan ke area budidaya. Untuk melindungi benih yang sudah ditanam, lelaki dengan lima cucu ini biasanya menggunakan serobong (red; pelindung), yaitu daun kelapa yang digulung berbentuk tabung tanpa alas dan tutup. “Yen tare nganggo serobong bise kekeh siap, pelaibang yeh di nuju ujan bales,” (red; Kalau tidak pakai serobong, benih yang sudah ditanam akan dirusak ayam, bahkan hanyut pada saat hujan lebat), ujar Mara yang ditemui di kebun tembakaunya, Sabtu, 31 Agustus 2013.

Mara juga memaparkan meskipun budidaya tembakau merupakan pekerjaan sambilan tetapi diperlukan kesabaran dan sentuhan kreatif. Daun tembakau yang sudah dipanen juga melalui beberapa proses sehingga bisa dijadikan bahan rokok dan pembersih gigi setelah nginang. Pemetikan daun mulai bagian daun terbawah yang dianggap paling tua. Tahapan selanjutnya, tulang daun dibersihkan dan di-sekeb (red; dibungkus) selama 3 hari. “Lamen sube telung wahi mare dadi buka sekeban te,” (red; Kalau sudah 3 hari baru bungkusan bisa dibuka), cetus Nyoman.

Hasil pematangan yang berwarna kuning kemudian diiris tipis. Irisan ini dijemur menggunakan anyaman daun kelapa yang disebut ‘kelabang’ (red; anyaman daun kelapa). Penjemuran dilakukan untuk mengurangi kadar air dan hasil olahan disimpan pada tempat khusus. I Nyoman Mara dan istrinya menggunakan tembakau kering ini untuk misik (red; membersih mulut setelah nginang). Sebagian Hasil panen biasanya dijual dalam bentuk tembakau kering pada warga setempat. Harga tembakau kering saat ini berada pada kisaran Rp 100.000 per kilogramnya.

Reporter: Komang Budiarta