Besok Bade Tumpang Pitu Iringi Upacara Kremasi

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Upacara kremasi atau yang lebih dikenal ‘ngaben’ bagi masyarakat Hindu Bali menjadi salah satu rangkaian upacara penting. Selasa besok, (12/7) menjadi puncak upacara pitra yadnya yang digelar Pasemetonan Sri Aji Kepakisan di Desa Batununggul. Berbagai rangkaian kegiatan telah dilaksanakan termasuk pemasangan tumpangan bade (red; tingkatan). Proses ini cukup menguras energi dan melibatkan puluhan orang agar tingkatan bisa tersusun tepat di atas badan bade. Secara keseluruhan tinggi bade mencapai 17 meter.

Warga menaikkan tumpangan bade untuk persiapan puncak upacara, Selasa (12/7)

Warga menaikkan tumpangan bade untuk persiapan puncak upacara, Selasa (12/7)

“Rasa tegang hilang sirnah setelah berhasil tumpang tujuh terpasang sesuai rencana. Tumpang tujuh sebelum dipasang, permohonan ijin melalui upacara matur piuning di pura dalem setempat memohon doa-Nya agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan,” ujar I Dewa Ketut Joyana.

Ketua Panitia I Dewa Ketut Adi Surya Negara mengakui panitia karya sengaja melibatkan seniman muda dalam penggarapan bade.

Bade tumpang tujuh dengan ketinggian 17 meter melibatkan 9 seniman lokal. Kami setiap ngaben masal tidak pernah membeli pelengkapan upacara justru dilakukan secara swadaya,”terang Dewa Ketut.

“Keterlibatan anak muda perlu dorongan dan motivasi agar senantiasa mandiri tapi tetap pelingsir mengawasi dan memberikan pertimbangan jika mengalami kesulitan,” imbuh Bendesa Desa Pakraman Dalem Setra Batununggul. I Dewa Ketut Tayanegara.

Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta yang sempat hadir di sela kunjungan pada upacara ngaben massal di Desa Bunga Mekar mengaku salut dengan keterlibatan anak-anak muda. Ia pun mengingatkan upacara tidak mesti dilakukan dengan jor-joran namun lebih mengutamakan esensi dan relevansi.

“Saya sangat terharu melihat anak muda terlibat langsung, padahal pengerjaan upacara tidak ringan. Keterlibatan anak muda, tentunya membutuhkan jiwa seni tapi anak muda mampu berkreasi mengambil tongkat estafet pengerjaan mulai dari pembuatan bade, lembu serta perlengkapan lainya, ” tutur Bupati asal Ceningan ini, Rabu (6/7).

Sebelumnya, Kamis lalu (7/7) sebanyak 13 lembu dan bade tumpang lima mengiringi prosesi kremasi di Desa Pekraman Pondokaha, Desa Bunga Mekar. Ratusan warga setempat dan yang pulang kampung dari perantauan mengikuti upacara. Setidaknya ada tiga klan yang bergabung yakni Bendesa Manik Mas, Pasek Gelgel dan Arya Kebon Tubuh. Ini menunjukkan besarnya semangat menyama braya dan menghilangkan ego kelompok yang kerap mewarnai berbagai kegiatan.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi