Berjualan di Badan Jalan, Pedagang Diciduk

MENTIGI, NUSA PENIDA POST

Keberadaan Pasar Mentigi di Desa Batununggul sangat vital sebagai sentra bisnis dan ekonomi masyarakat. Hampir seluruh pasokan kebutuhan sehari-hari didapat dari pasar induk ini. Dalam satu hari nilai transaksi mencapai ratusan juta. Tingginya aktifitas pasar justru berbanding terbalik dengan kondisi fisik dan lingkungan. Pasar yang sempit dengan ribuan pembeli menjadi sesak dan sumpek.

Dalam catatan redaksi, Pasar Mentigi sempat diperbaiki beberapa kali, termasuk saat ini pasar sedang direnovasi tetapi hingga ini kondisi pasar masih jauh dari harapan. Buntutnya, lahan yang seharusnya menjadi tempat parkir harus dibagi menjadi tempat relokasi pedagang. Kita kerap kali melihat pedagang menggunakan badan jalan, trotoar untuk membuka lapak dagangan. Kemacetan selalu menjadi jadwal harian apalagi menjelang hari raya. Masyarakat dari pelosok desa tumpah ruah berburu kebutuhan.

Tim Yustisi melakukan sidak di Pasar Mentigi (1/11) untuk menertibkan pedagang

Tim Yustisi melakukan sidak di Pasar Mentigi (1/11) untuk menertibkan pedagang

Sejumlah pedagang yang ditemui mengaku nekat berjualan di luar area yang diperbolehkan agar dagangannya cepat laku. Ketidaktertiban pedagang ini berimbas buruk bagi pengunjung pasar, semrawut.

Apang enggalan laku, yen di tengah trade tongos bin joh anak meli te,” (red; di luar lebih cepat laku, kalau di dalam tidak ada tempat dan kejauhan bagi pembeli), celoteh salah satu pedagang ikan (1/11).

Sabtu, 1 Nopember 2014 lalu, jajaran Satpol PP menggelar sidak untuk menertibkan pedagang. Sidak yang dimpimpin langsung Kasat Pol PP Kabupaten Klungkung, I Nyoman Sucitra mendapati puluhan pedagang berjualan di badan jalan dan trotoar. Mereka pun dianggap melanggar Perda No 2 tahun 2014 tentang ketertiban umum yang tidak memperbolehkan berjualan di bahu jalan maupun trotoar yang sering menimbulkan kemacetan lalu lintas.

“Dalam sidak kali ini, 22 pedagang kita ciduk dan diberikan pembinaan dulu. Bagi yang membandel akan langsung ditindak lebih lanjut, toh kalau ada yang masih ngeyel, ya proses berlanjut ke pengadilan tetapi pembinaan tetap dikedapkan semasih dalam batas kewajaran,” jelas Sucitra (1/11)

Razia yang dilakukan menjaring puluhan pedagang didominasi oleh pedagang ikan, mainan serta pedagang yang kedapatan menjual perlengkapan upacara di area yang tidak diijinkan. Dalam keterangannya, Sucitra meminta para pedagang agar mematuhi aturan. Tindak pidana ringan (tipiring) akan menjerat bila pedagang tetap membandel.

Pedagang yang sempat diminta konfirmasi mengaku salah namun ia dan teman-temannya berharap pemerintah daerah bisa menyediakan fasilitas berjualan yang memadai dan layak.

Tiang salah lakun seharusnya ada tongos medagang. Men tongos trade, jape tiang medagang Pak?,(red; Saya salah tetapi seharusnya disediakan tempat buat pedagang. Tempat saja tidak ada, lalu dimana kami jualan), ungkap salah satu pedagang dengan nada kesal.

Sidak Tim Yustisi pun berlanjut ke Desa Toya Pakeh, satu per satu rumah kos dicek untuk mendata duktang (penduduk pendatang) namun hasilnya nihil. Sementara di Desa Batununggul, penduduk pendatang yang terdata terdiri dari pekerja cafe dan pedagang kaki lima, setelah dicek administasi kependudukan mereka lengkap.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi