Berburu Monyet ‘Jambu Mente’, Berkah di Musim Kering

Nusa Penida, NUSA PENIDA POST
Musim kemarau tidak selamanya membawa petaka. Diakui memang hampir semua pohon meranggas, ini dilakukan sebagai bentuk adaptasi agar tetap survive. Namun tidak demikian dengan jambu ‘monyet’ (red; Jambu mente. Pohon buah yang berasal dari Brasil, Amerika Selatan ini justru membawa berkah bagi masyarakat pembudidaya jambu mente di Nusa Penida.

Jambu monyet merupakan pohon yang berbuah musiman. Tanaman ini kerap ditanam di lahan-lahan yang kurang produktif dan bukanlah perkebunan yang utama. Seorang warga asal Banjar Cemulik, Desa Sakti, Nusa Penida, I Ketut Punta (72) mengaku punya ratusan pohon tersebar di seluruh tanah tegalan miliknya.“Maan satus tiang ngelah punyan monyet. Bibitne uling program reboisasi dugas jaman Soeharto dadi presidente” (red; Saya menanam ratusan jambu monyet. Saya dapat bibitnya dari program demplot reboisasi pada saat Soeharto jadi presiden,” tuturnya (14/9).

Budidaya jambu mente

Biji jambu mente yang sudah dipisahkan dari daging buah dan siap dijual

Pada bulan September ini, jambu monyet sudah mulai berbuah tetapi hanya sedikit yang baru bisa dipanen. Bapak empat anak ini biasanya memetik monyet sebelum daging buahnya masak. Ini dilakukan untuk menghindari jarahan kelelawar. Hewan nocturnal ini biasanya tidak langsung memakan buah di pohonnya, daging buah dibawa ke pohon lain. Tentunya ini merugikan sang empunya tanaman ‘monyet’. Tidak begitu dengan Ni Ketut Swari (60), warga dari Banjar Cemulik malah meraup keuntungan. “Tiang ten ngelah punyan monyet, cuman tiang ngunuh di beten punyan kayu gede ne,” (red: Saya tidak punya pohon jambu mente, Saya hanya mencari dan mengumpulkan dari bawah pohon-pohon besar yang menjadi tempat makan kelelawar), pungkasnya, Sabtu, 14 September 2013.

Sampai saat ini warga setempat hanya menjual hasil panen berupa biji yang dikeringkan. Harga pasaran biji kering saat ini berada pada kisaran Rp 4.500 per kilogramnya. Harga tersebut bisa melonjak naik pada saat puncak panen. Tahun lalu, harganya jambu mente mencapai Rp 10.000 per kilogramnya. “Musim kering care ne haget ade monyet, masih payu baane meli ape,” (red: Di musim kering saat ini beruntung ada jambu mente, hasil pejualannya bisa dipakai beli sesuatu), ungkap Ni Nyoman Lami (69) warga Banjar Jurang Batu, Desa Suana (16/9).

Jika ditelisik lebih jauh, biji mente memiliki banyak manfaat. Biji hasil olahan bisa dibuat menjadi berbagai macam panganan siap konsumsi yang harganya relatif mahal. Biji mente juga dapat diekstrak menjadi minyak, begitu juga cangkangnya diekstrak menjadi minyak atau cashew nut shell liquid (CSNL) yang berguna bagi dunia industri. Hasil perkebunan biji mente dapat membantu perekonomian warga, apalagi jika mampu diolah menjadi barang jadi. Diperlukan tangan-tangan kreatif dari warga itu sendiri sehingga tidak berlebihan jika jambu monyet disebut berkah di musim kering.

Reporter: Komang Budiarta