Batu Kapur Menjadi Alternatif Pengganti Pasir

KLUMPU, NUSA PENIDA POST

Salah satu kendala terbesar dalam pembangunan di Nusa Penida adalah material bahan bangunan berupa pasir yang sulit didapat. Hal ini terjadi karena daerah ini tidak memiliki tambang pasir yang menjadi bahan dasar untuk mendirikan bangunan. Pengambilan pasir laut pun sudah dilarang sebagai upaya untuk mencegah abrasi pantai dan meminimalisir kerusakan lingkungan pesisir. Warga yang ingin mendirikan bangunan dengan material pasir harus mendatangkan pasokan dari Bali daratan. Bisa dipastikan harga pasir melambung tinggi akibat beban biaya transportasi yang mahal. Saat ini, harga pasir per truk double berkisar di atas Rp 2.000.000.

“Kalau sekarang harga pasir atau koral per truk di atas Rp 2.000.000. Itu pun tidak bisa dikirim setiap saat karena kami harus antre untuk dapat jatah muat di kapal mengingat kapasitas kapal Ro-ro sangat sedikit,” terang I Made Sutama (29), sopir truk pengangkut pasir dari Banjar Adegan Kauh, Ped yang dikonfirmasi via ponsel (25/1).

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, warga memilih alternatif lain dengan menggunakan sumber daya alam yang ada di sekitar, yaitu dengan menambang batu kapur. Batu kapur merupakan salah satu jenis bahan galian golongan C yang banyak digunakan dalam proses industri maupun bangunan. Penambangan batu kapur bisa ditemukan di beberapa kawasan, terutama daerah perbukitan mengingat kondisi geografis daerahnya yang berupa batu kapur. Hasil tambang biasanya dimanfaatkan untuk bahan baku batako, penguruk dan penghalus tembok bahkan beberapa jenis batu tambang seperti paras digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pelinggih (red; tempat suci) dan kerajinan lainnya termasuk seni patung.

Penambangan batu kapur tidak hanya mempermudah warga untuk mendapatkan bahan bangunan tetapi juga menciptakan lapangan kerja. Hal ini diakui penambang batu kapur, Ni Made Nuari (39) dari Banjar Subia, Desa Klumpu yang ditemui di lokasi tambang (22/1).

Sekat ade tambang batu kapur dini, kole dadine ngelah gae sampingan, suud nyakan mare megae, sanjane nyidang ngarit ngalih aman sampi. Panak teke masuk nyidang maseh nulungin ngebet rabuk,” (red : Semenjak ada penambangan batu kapur, saya memiliki pekerjaan sampingan, setelah memasak, saya bisa bekerja, sorenya bisa mencari makanan sapi. Anak-anak datang sekolah juga bisa membantu menambang batu kapur), tutur Nuari.

Warga menambang batu kapur dengan membuat terowongan

Warga menambang batu kapur dengan membuat terowongan tanpa dilengkapi alat keselamatan

Penambang lain, I Nyoman Winda mengaku mengelola tambang batu kapur dengan sistem sewa lahan dari pemilik tanah. Dari usaha sederhana ini, Winda pun bisa memberi pekerjaan bagi warga sekitar termasuk anak-anak yang bisa menambang sepulang dari sekolah. Dari hasil penelusuran tim Nusa Penida Post, kawasan tambang batu kapur terbesar terdapat di Banjar Pillah, Desa Kutampi Kaler dengan hasil utama batu paras. Titik lain yang menjadi areal tambang adalah daerah Batu Megong, Banjar Rata, Banjar Dlundungan dan hampir merata di setiap desa dengan volume yang lebih sedikit.

Proses penambangan dilakukan secara sederhana, hanya berbekal palu, cangkul, linggis, paji dan panyong (red: cangkul besar) warga menggali tebing batu bahkan tanpa dilengkapi alat keselamatan. Tak jarang lubang hasil galian berbentuk lorong memanjang dengan kedalaman tertentu. Kondisi itu tentu sangat membahayakan para penambang jika kondisi tambang tidak stabil. Penambang bisa saja terkubur hidup-hidup akibat ambrolnya bebatuan.

Ibarat makan buah simalakama, penambangan batu kapur memberi kemudahan bagi warga untuk membangun namun disisi lain justru menyisakan permasalahan lingkungan yang sangat riskan. Penambangan yang marak dan tanpa kendali dikhawatirkan memberi dampak buruk secara ekologi. Polusi udara dipastikan meningkat akibat debu yang beterbangan. Area bekas tambang meninggalkan kuntur permukaan berupa lereng-lereng terjal dan terlihat bopeng serta berlubang di sana-sini. Lubang hasil tambang pun dibiarkan menganga begitu saja. Sisa tambang juga terlihat berserakan tak terurus. Nyaris tidak ada upaya rehabiltasi terhadap lahan bekas tambang dan hanya ditinggalkan begitu saja.

Reporter: I Komang Oka Sanjaya

Editor: I Gede Sumadi