Baris Jangkang, Khasanah Budaya, Perpaduan Seni dan Filosofi

PEJUKUTAN, NUSA PENIDA POST

Bali dikenal ke pelosok dunia dengan keanekaragaman budaya dan tradisi, satu diantaranya tari-tarian baik tari wali, bebali dan balih-balihan. Keberadaanya hingga kini masih lestari berkat kuatnya akulturasi antara agama dan budaya Bali. Tak banyak juga yang menyangka bahwa wilayah yang notabena terpisah dari induknya, Bali daratan juga menyimpan khasanah budaya yang masih terjaga, Baris Jangkang atau yang lebih dikenal Jangkang Pelilit. Tarian ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia dan harta budaya ini ada di Nusa Penida, tepatnya di Banjar Pelilit, Desa Pejukutan.

“Tari Jangkang Pelilit salah satu budaya Nusa Penida yang sudah diwarisi dari generasi ke generasi. Tari ini dipentaskan saat piodalan di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Pelilit. Sebagai tari pahlawan yang sedang berperang melawan musuh. Lakon cerita sangat berbeda dengan tari Bali pada umumnya seperti guak maling banten, buyung mesugi serta jelantik maisik,” jelas I Wayan Satu Antara, Bendesa Pakraman Pelilit, Kamis (26/2).

Tari Baris Jangkang dipentaskan pada piodalan di pura Desa Pekraman Pelilit

Tari Baris Jangkang dipentaskan pada piodalan di pura Desa Pekraman Pelilit

Dalam filosofi masyarakat setempat, Baris Jangkang dipercaya memiliki kekuatan sakral. Tarian ini dipentas pada perayaan di pura serta pada kondisi tertentu. Bari Jangkang pun diyakini sebagai penolak bala, menyembuhkan orang sakit atau memohon berkah keturunan sekaligus ungkapan syukur kepada sang Pencipta. Selain berfungsi di atas, Baris Jangkang juga melambang kegagahan tentara masa lalu. Ini tercermin lewat gerakan yang luwes namun penuh kekuatan dalam balutan nilai seni yang tinggi.

“Baris Jangkang yang disakralkan ini bertujuan sebagai tolak bala, ungkapan rasa bhakti masyarakat kami keagungan Tuhan. Dari awal mulainya dipentaskan kesan magis tersaji bahkan bisa menyembuhkan orang sakit, lama mandul akan punya anak serta tujuan tertentu,” tambah Satu.

Pementasan Baris Jangkang biasanya diiringi alat musik sederhana berupa kendang, cengceng, tawatawa, gong kempul dan bonang. Para penari pun dibalut kostum sederhana yang sangat bersahaja tediri dari udeng (red; destar), kamben cepuk, awir kuning, baju dan celana panjang putih. Setiap penari yang berjumlah 9 orang juga membawa tongkat dengan hiasan benang tridatu dan simbol ilalang.

I Made Monjong, Ketua Sekaa Tari Jangkang Pelilit mengatakan untuk melestarikan budaya yang adiluhung ini perlu regenerasi. Monjong juga menegaskan perlu kepedulian besar dari berbagai sisi sangat diperlukan agar budaya ini tidak punah ditelan waktu.

“Agar tetap lestari, kita perlu regenerasi dengan libatkan anak-anak SD untuk dilatih sebagai generasi penerus. Tonggak estafet berjalan terus hingga tidak tertelan waktu. Instansi terkait betul-betul peduli dengan keberadaan tari sakral ini,” pinta Monjong.

Sekelumit Sejarah Heroik Lahirnya Baris Jangkang

Berdasarkan penuturan masyarakat dan berbagai sumber yang ada, Baris Jangkang lahir melalui proses panjang yang berawal dari seorang abdi Kerajaan Klungkung asal Banjar Pelilit, Desa Pejukutan, yang bernama I Jero Kulit. Sebagai abdi kerajaan, Jero Kulit ditugaskan memberi makan babai setiap hari. Tanpa sengaja dirinya tertarik dengan tempat makan babi yang terbuat dari perunggu, mirip kempul. Begitu dipukul, terdengar suara nyaring. Maka tergeraklah I Jero Kulit untuk meminta pada sang raja.

Dengan berbekal sedikit keberanian, Jero Kulit mengutarakan maksudnya dan ternyata sang raja pun tidak keberatan dengan permintaannya. Singkat kata, sanga raja memberikan kempul dimaksud kepada Jero Kulit. Sekian bertahun-tahun mengabdi di Puri Klungkung, Jero Kulit pun merasa rindu dengan sanak keluarga dan tanah kelahirannya, Banjar Pelilit. Setelah berpamitan, Jero Kulit turut membawa kempul yang dimintanya dari raja sebagai oleh-oleh.

Jero Kulit beranjak pulang dengan menyeberangi selat Badung. Begitu sampai di desanya, Jero Kulit tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke kebunnya yang bernama Bukit Jurang Runut. Kempul yang menemani perjalanannya ditaruh di pondok sementara beliau rehat sejenak. Saking lelahnya setelah menempuh perjalan jauh, Jero Kulit tertidur dan sejurus kemudian terbangun oleh suara kentongan yang bertalu-talu.

Begitu ditelisik, suara kentongan berasal dari Banjar Adat Pelilit. Jero Kulit berjalan menuju sumber suara dan ternyata masyarakat Banjar Adat Pelilit saat itu sudah berkumpul dengan membawa senjata untuk menyatakan perang. Kelihan Banjar mengumumkan perang melawan desa sebelah perbukitan dekat batas wilayah. I Jero Kulit merasa tertantang ikut bergabung dengan warga masyarakat namun tanpa membawa senjata.

Masyarakat bergerak bersama-sama menuju tapal batas wilayah dan ternyata musuh sudah menunggu. Dalam hitungan menit, perang pun mulai pecah, I Jero Kulit mengambil kempul yang dibawanya dan dibunyikan secara bertubi-tubi. Musuh yang mendengar suara kempul yang sangat mengelegar dari pemberian Sang Raja, mendadak mundur. Dikisahkan, dashyatnya suara kempul membuat rumput ilalang ikut bergerak meliuk-liuk. Musuh melihat padang ilalang tersebut ibarat tombak yang siap menyerang dengan garang.

Melihat musuh lari tunggang langgang, masyarakat bersorak dan merayakan kemenangan. Sambil merayakan kemenangan masyarakat membicarakan tentang kempul yang dibawa oleh I Jero Kulit karena dianggap mempunyai nilai magis yang tinggi. Hasil rapat Banjar Adat Pelilit menyepakati untuk menciptakan tarian sakral Tari Baris Jangkang dengan diiringi kempul.

Dari cerita yang berkembang, penamaan Baris Jangkang diambil sebab saat perang berlangsung dan kempul dibunyikan, padang ilalang ikut jungkangjungking (red; rebah dan berdiri) mengusir musuh. Simbol ilalang hingga kini selalu diikat pada ujung tombak sebagai simbol untuk ikut memenangkan perang. (Diolah dari berbagai sumber)

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi