‘Bantal Bleleng’ Panganan Khas yang Semakin Langka

KLUMPU, NUSA PENIDA POST

Perayaan Hari Raya Nyepi menjadi agenda istimewa bagi umat Hindu, termasuk juga di daerah Nusa Penida. Selain rangkaian melasti, pengrupukan dan catur brata penyepian, warga juga menyiapkan sajian spesial berupa bantal bleleng (red; panganan dari sorgum), tipat takut dan aneka kudapan lain.

Keunikan yang paling menonjol dari semua hidangan kuliner yang dipersiapkan adalah bantal bleleng karena makanan ini jarang dihidangkan, kecuali pada momen tertentu. Jika dirunut lebih jauh, bantal bleleng dibuat dari biji bleleng (red; sorgum) yang termasuk tanaman biji-bijian yang dibudidayakan di daerah dengan curah hujan rendah. Masyarakat di Bali daratan menyebut tanaman ini jagung gembal.

Bantal bleleng memiliki cita rasa istimewa namun semakin sulit didapat

Bantal bleleng memiliki cita rasa istimewa namun semakin sulit didapat

Biji sorgum yang sudah matang dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air dan membuatnya lebih tahan lama. Tahap selanjutnya, biji sorgum disosoh atau ditumbuk untuk melepaskan kulit luarnya dan hanya menyisakan bulir biji tanpa kulit ari. Biji sorgum dibersihkan untuk selanjutnya dicampur dengan parutan kelapa. Pada kondisi tertentu, bantal bleleng juga dicampur dengan sedikit kacang merah atau diisi irisan pisang dengan sedikit garam yang disesuaikan dengan selera penikmatnya.

Adonan yang sudah tercampur kemudian dikukus tetapi terlebih dahulu dibungkus daun kelapa yang dibentuk menyerupai cerobong dengan ukuran kecil-kecil. Cerobong yang berisi adonan diikat melingkar dengan tali yang terbuat dari kulit bagian dalam pelepah kelapa atau yang biasa disebut tali guntung. Hasil ikatan berbentuk bantal dan kemungkinan penamaan bantal bleleng berasal dari bentuk pembungkus dan bahan dasarnya, bleleng. Untuk mendapat hasil masakan yang baik, proses pengukusan membutuhkan waktu yang cukup lama dengan api sedang.

Pembuat bantal bleleng, Ni Wayan Suari (38 th) yang ditemui di kediamannya di Banjar Subia, Desa Klumpu (30/03) lalu mengatakan pembuatan bantal bleleng memerlukan proses yang lama dan takaran yang tepat. Salah sedikit saja, maka hasilnya nyanteh (red; kurang enak)

Yen kole biasane ngae bantal bleleng duang kilo misi nyuh telung bungkul, misi kacang barak tengah kilo, isinin uyah apang kanti meladom, pragat sobe. Lakun mumpunin ne apang apine bagus masih,” (red : Kalau saya biasanya membuat bantal bleleng dua kilogram biasanya dicampur dengan tiga buah kelapa parut, ditambahkan kacang merah setengah kilo dan sedikit garam untuk menambah rasa. Untuk proses memasak memerlukan api yang pas sehingga hasilnya maksimal), tuturnya Suari sambil mengisikan adonan.

Saat ini keberadaan kuliner bantal bleleng semakin langka dan hanya bisa didapat pada acara tertentu. Selain proses pembuatan memerlukan waktu yang lama, bahan bakunya pun sulit didapat mengingat bukan komoditi utama masyarakat. Bleleng hanya ditanam secara tumpang sari dengan tanaman palawija lain seperti jagung dan kacang merah atau kacang tanah. Itupun dengan jumlah yang sangat terbatas, hanya sekedar untuk konsumsi keluarga.

Reporter: I Komang Oka Sanjaya

Editor: I Gede Sumadi