Bali Potensial Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Layang-layang

Nusa Penida Post

Layang-layang, salah satu permainan tradisional yang masih exist di tengah serbuan game modern yang mengandalkan kemajuan teknologi. Bagi masyarakat Bali, layang-layang bukan hanya sekedar permainan belaka tetapi sudah mengakar menjadi tradisi bahkan budaya. Pada musim angin barat setelah panen padi, kita biasanya disuguhkan festival layang-layang (Bali Kite Festival) yang dilaksanakan di Pantai Padang Galak, Sanur dan sejumlah festival tingkat lokal juga dihelat di hampir semua wilayah. Tidak banyak yang tahu memang, dibalik permainan layang-layang yang digemari masyarakat, ternyata permainan ini bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.

Pembangkit listrik dengan layang-layang dapat dilakukan dengan memanfaatkan pergerakan dan perubahan besarnya tegangan tali pengait. Pada umumnya, pergerakan layang-layang saat mengudara akan menghasilkan suatu gerakan yang harmonis dan teratur yang dalam istilah Bali-nya disebut sebagai ‘ngonyah’ (red; bergerak teratur). Dalam keadaan ngonyah, layangan akan memberikan tarikan keras dan lemah secara teratur dan bergantian. Tarikan yang dihasilkan dari pergerakan selanjutnya disalurkan melalui tali pengait ke tuas penggerak dan memutar generator yang akan menghasilkan aliran listrik. Berikut adalah ilustrasi fase pembangkit listrik tenaga layang-layang :

Fase 1. Layang-layang memberikan tarikan maksimum.

Fase 1. Layang-layang memberikan tarikan maksimum.

Pada fase ini, layangan akan menarik tuas dengan tegangan maksimum sehingga pegas tertekan dan memutar generator. Pergerakan generator tersebut akan menghasilkan arus listrik.

Fase 2. Layang-layang memberikan tarikan minimum.

Fase 2. Layang-layang memberikan tarikan minimum.

Fase berikutnya, layangan akan menarik tuas dengan tegangan minimum sehingga pegas kembali meregang dan memutar generator. Serupa pada fase pertama, pergerakan generator tersebut akan menghasilkan arus listrik secara continue.

Pembangkitkan listrik tenaga layang-layang bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi krisis energi terutama di daerah terpencil yang sulit terjangkau jaringan PLN, namun hingga kini metode ini belum digarap secara serius. Pemanfaatan energi tenaga layang-layang termasuk energi ramah lingkungan dan bisa terbarukan karena memanfaatkan energi alam.

Hingga saat ini, beberapa negara seperti Switzerland dan Belanda sudah melirik potensi listrik tenaga layang-layang dengan mengembangkan riset pembangkit listrik secara berkelanjutan. Daya terbesar yang dihasilkan untuk ukuran layang-layang  4 meter x 1 meter mencapai 20 kW.

Melihat letak geografis Indonesia yang berada di daerah tropis dengan kecepatan angin yang mencukupi maka pembangkit ini sangat menjanjikan kedepannya. Khususnya untuk masyarakat Bali yang sudah begitu akrab dan membudaya dengan layang-layang, maka tidak terlalu sulit untuk mengaplikasikan pembangkit listrik layang-layang ini.  Bermain layang-layang sembari bermanfaat menghasilkan listrik. Mengapa tidak?

Oleh: Putu Agus Aditya Permana (Mahasiswa Pasca Sarjana, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung)