Awig-awig Desa Adat Pelestarian Burung Tumpul

Nusa Penida Post Vol 19

Untuk download Nusa Penida Post Vol 19 klik Ganbar di atas!

NUSA PENIDA
Keterpencilan Nusa Penida sebagai pulau kecil tidak selalu berdampak negatif tetapi hal ini justru membuat banyak keasliannya masih bertahan. Keaslian bahasa, kain cepuk dan budaya tampak jelas masih terlihat, penyebabnya ditengarai proses migrasi dari Nusa Penida ke daratan Bali maupun sebaliknya dulunya masih relatif terbatas. Keaslian lain yang masih exist adalah satwanya.

Beberapa jenis fauna asli yang ada antara lain burung, kera, sapi, penyu, mola-mola, pari manta dan satwa lainnya. Salah satu satwa yang terancam punah adalah burung. Terkait tentang pelestarian burung, Nusa Penida memiliki banyak jenis burung yang ada sampai sekarang walaupun jumlahnya sangat sedikit dan terancam punah. Jenis-jenis burung tersebut terdiri dari jalak putih, jalak Bali, kakaktua kecil, jambul kuning, elang laut perut putih, elang bondol, alapalap, raja udang jawa, raja udang suci, sesapi madu merah, kepodang dan kucica.

Nusa Penida Post Vol 19 foto1

Sosialisasi pelestarian burung yang diinisiasi FNPF dengan menggandeng Desa Adat

Fauna Endemik Terancam Punah
Masalah kemudian terjadi ketika masyarakat menjadikan burung-burung itu sebagai buruan dengan berbagai alasan. Diburu untuk dipelihara, dijual, dijadikan hadiah untuk mencari kerja bahkan yang lebih miris adalah diburu hanya untuk kesenangan belaka. Jumlah populasi burung-burung ini semakin sedikit dan akan punah dalam beberapa dekade. Hal ini dikarenakan perburuan terhadap burung-burung ini lebih besar dibandingkan kelahirannya serta kurangnya upaya untuk melakukan konservasi. Bukti nyata adalah burung atat (red; kakatua) yang keberadaanya sangat langka serta sulit ditemui. Hasil penelitian beberapa lembaga konservasi menunjukkan bahwa hanya ada 3 ekor di Banjar Sedehing, Desa Sekartaji. Sekitar tahun 1960-an, keberadaan atat sangat banyak dengan jumlah mencapai ratusan ekor, namun jumlahnya menurun drastis dalam 20 tahun. Menjelang 1990-an, hanya beberapa ekor yang masih bisa dijumpai di Banjar Karang, Desa Pejukutan. Burung atat ini biasanya membuat sarang di pohon gepuh. Namun sayang, kini jejaknya tidak lagi terlacak. Hanya cerita tentang burung kakatua itu yang masih bisa kita dengarkan dari para tetua, namun keberadaan burungnya sudah entah kemana tak tentu rimbanya. Hal ini disampaikan oleh I Made Yasa, bahwa keberadaan burung atat di tempatnya sekarang sudah punah dan tidak pernah terlihat. “Penyebabnya anak-anak burung yang jatuh dari sarangnya ada yang memungut, mungkin dipelihara atau dijual, saya juga tidak tahu dan kini punah,” terangnya polos.

Nusa Penida Post Vol 19 foto3

Pelepasan burung ke alam liar sebagai bentuk nyata konservasi

Konservasi Melalui Local Genius Awig-awig
Beranjak dari keterancaman satwa khususnya burung, ternyata hal ini belum mampu menggerakan hati masyarakat Nusa Penida untuk memikirkan hal itu, baik secara individu maupun secara kolektif keorganisasian.

“Isi awig-awig tersebut adalah tidak membolehkan menembak atau menangkap burung di semua desa pekraman”

Barulah pada tahun 1997, Drh. I Gede Nyoman Bayu Wirayudha yang menjadi pendiri sekaligus Direktur Yayasan Friends of National Parks Foundation (FNPF) atau Yayasan Pecinta Taman Nasional melakukan konservasi burung. Yayasan FNPF yang dikomandaninya kemudian melakukan beberapa kegiatan konservasi, pelestarian burung, kegiatan budaya, kampanye pelestarian lingkungan, penghijauan dan menginisiasi lahirnya awig-awig desa adat di hampir seluruh Nusa Penida. Isi awig-awig tersebut adalah tidak membolehkan menembak atau menangkap burung di semua desa pekraman. Aturan ini dapat kita jumpai setiap melewati desa pekraman dalam bentuk plank berwarna putih yang bergambarkan burung berisi larangan menembak burung. Bentuk pelestarian burung tidak hanya di desa adat berupa awig-awig perlindungan namun FNPF juga memfasilitasi bibit tanaman pohon dalam rangka menjaga kelestarian alam Nusa Penida secara berkelanjutan dari tahun 1997.Getolnya yayasan FNPF bersama relawan lokal Nusa Penida dalam melestarikan burung khususnya jalak Bali, membuat masyarakat menamakan FNPF sebagai Yayasan Burung. Walaupun Drh. Bayu tidak mempermasalahkan haltersebut, tetapi ia mengatakan ini persepsi yang salah kaprah.“Yayasan Pecinta Taman Nasional yang saya dirikan ini tidakterbatas pelestarian burung, tetapi yayasan ini ikut sersecara terus menerus menjaga kelestarian Nusa Penida,tandas Bayu ketika dikonfirmasi (Minggu,12/5). HarapannyaNusa Penida tidak  seperti Kuta atau Nusa Dua, apabilamenjadi kawasan pariwisata tidak mesti  mengabaikankelestarian lingkungan yang pada akhirnya mengusikkenyamanan dan bahkan mengancam kelangsungan hidupmasyarakat itu sendiri. Menurutnya, pariwisata yang cocokdi Nusa Penida adalah ekowisata atau wisata alam, wisataspiritual dan pariwisata sejenis yang mengedepankanpelestarian lingkungan. Pengembangan pariwisata

Satwa endemik jalak Bali melakukan simbiosis mutualisme

Satwa endemik jalak Bali melakukan simbiosis mutualisme

secarkeseluruhan harus sesuai konsep Tri Hita Karana. Kebijakan awig-awig untuk pelestarian lingkungan oleh masyarakat adat patut diapresiasi. Kendati aturan yang ada di Desa Pekraman untuk melestarikan keberadaan burung masih terlihat tumpul dan terkesan masih bersifat himbauan belaka. Kedepannya awig-awig Desa Pekraman ini dipertajam dengan tindakan tegas sesuai sanksi yang sudah tertuang. Itidak bisa dibantah dengan kenyataan di lapangan bahwa perburuan burung semakin marak. Pemburu semakin berani dan terang-terangan dengan menggunakan senapan angin, menangkap dengan perangkap dan mencari sarang untuk mengambil anak burung. Celakanya penangkapan burung secara liar ini pernah dilihat oleh donatur yayasan FNPFsehingga dikhawatirkan ini bisa mengancam kelanjutan program pelestarian lingkungan di Nusa Penida. Satwa tidak hanya sekedar penghias alam tetapi mereka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pelestarian satwa dan alam harus berjalan beriringan dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. (Suka)