Apel “Pande Kadek Heryana” Seniman Muda Multi Talenta

Nusa Penida, Nusa Penida Post

Kreatif, demikian sosok yang akrab dipanggil Apel ini. Anak muda yang berasal dari Nusa Penida, tepatnya Banjar Sebunibus, Desa Sakti bernama asli Pande Kadek Heryana. Apel sudah tidak asing lagi dikalangan peggemar musik di Nusa Penida demikian juga di Bali. Selain seseorang musisi yang memotori Band Electrical Plug, ternyata Apel seniman serba bisa. Betapa tidak selain aktif mencipta lagu, arasemen musik, ternyata Apel juga mahir dalam hal fotografi dan desain.

Terlahir pada 20 September 1988, Apel memulai kiprah musisinya sejak masih belia. Semenjak SMA, ia sudah memiliki band dengan musikalitas musik yang tidak bisa diragukan lagi. Sebagai gitaris sekaligus vokal, Eletrical Plug yang dirikan bersama dua orang anggota EP (Electricall Plug), ia mencipta sekaligus mengarensemen lagu-lagu yang bergenre rock alternatif. Bersama kakak kandungnya, Pande Gede Guna Sesana dan Goler yang masih duduk di bangku SD, Apel dengan gigih membesarkan Electricall Plug. Alhasil, Eletrical Plug masuk dapur rekaman pada tahun 2007.

Tidak tangung-tanggung EP diproduseri Eka Rock, salah satu pentolan Superman Is Dead (SID) yang sudah terkenal dikalangan anak muda nasional maupun international. Berbekal rekaman dengan album bertajuk ‘We want to fly‘ dan satu album independent “Shympony of my story 2011“. Electrical manggung dibeberapa event kampus, night club bahkan untuk acara sosial sekalipun lewat tembang andalan “Black Valentine“.

Selain menjadi musisi, Apel juga menjadi photografer dengan membuat ‘Apel Photography’ yang di online-kan melalui web site di www.apelphotography.com. “Mungkin karena darah seni dari keluarga yang menjadi pemusik tradisional, pelukis, dan penari yang saya warisi, kini saya menjadi seniman lewat media photo dan design,” terang Apel beralasan tentang sumber bakat photografi, musik dan desainnya.

Sosok Apel "Pande Kadek Heryana Saputra" Seniman Muda Multitalenta

Sosok Apel “Pande Kadek Heryana Saputra” Seniman Muda Multi talenta

Prestasi di dunia photografi Apel juga tidak bisa dianggap enteng, ia pernah memenangkan beberapa lomba photo, ada juga masuk seleksi lomba photo internasional seperti Gambara photo award, Garuda international photo kontes yang menyeleksi photographer top diseluruh dunia. “Saya merasa bangga walaupun saya anak yatim piatu,” terang putra pasangan Alm. I Ketut Mindah Ginastra dan Alm. Ni Wayan Musti.

Kini Apel memetik hasil dari jerih payah merintis usaha photogrfinya yang secara terus menerus berpromosi melalui dunia maya. Apel diminta mendokumentasikan preweding, international wedding yang tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Tentunya bayarannya setimpal dengan kualitas yang diberikan, Apel merasa bersyukur bisa sampai sekarang ini, kaya, sukses, masih jauh dari dirinya sehingga ia harus lebih giat lagi.

“Kaya itu bonus tetap melakukan tugas dengan baik dan selalu bersyukur,” ungkapnya penuh optimis.

Tidak sampai disana, selain menjad photographer dan pemusik, Apel juga merambah dunia usaha. Berbekal jiwa seni Sang Ayah dan jiwa pengusaha dari Ibu yang sewaktu hidup menjadi pedagang, Apel kini merintis usaha fashion. “Saya mulai merintis merk pakaian yang saya beri nama APSTUFF yang dijual secara online di www.apstuffworld.com dan di jual-jual di gerai-gerai distro hampir diseluruh Bali,” aku Apel berpromosi. Kini ia mulai rajin berpromosi dengan mengandeng band-band lokal dan international, walaupun ia mengaku masih merugi. “Tapi saya yakin 2 tahun lagi atau 3 tahun sejak dirintis akan mulai ada hasil, karena kini baru setahun,” kata Apel.

Diujung sesi tanya jawab dengan Nusa Penida Post, Apel mengaku terkadang merasa kesepian. Itu karena kedua orang tuanya telah tiada menjadi korban kecelakaan kapal tenggelam KM Sri Rejeki 21 September 2011 silam. Rasa rindu kerap menghampiri, namun Apel tetap tegar. Untuk memperingati dan mengobati rasa rindunya, Apel setiap tanggal 21 September melakukan sembahyang di pantai, ini dilakukannya mengingat kedua jasad orang tuanya tidak diketemukan sampai sekarang. Ia berharap kedua orang tuanya damai disisi-Nya.

Menyimak cerita Apel seniman muda Nusa Penida yang multi talenta ini, memang cukup miris ditinggalkan kedua orang tuanya. Meskipun begitu, ia mengaku tetap semangat untuk berkarya dan tidak larut dengan kesedihan, malah sepeninggal orang tuannya ia mengaku terus belajar agar bisa membanggakan kedua orang tuanya di alam sana. Ini harusnya menjadi inspirasi sekaligus motivasi anak muda lainnya untuk berkarya pada kondisi pahit sekali pun.

Reporter & Editor : I Wayan Sukadana