Anda Penikmat Wisata Bahari, Perhatian Aturan Mainnya

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Kehidupan bawah laut Kepulauan Nusa Penida dengan beragam species ikan dan keindahan hamparan karang ribuan hektar menjadi destinasi wisata istimewa untuk diselami. Dalam sebuah poling yang digelar Kementrian Pariwisata, gugusan karang yang masuk segitiga karang dunia ini dinominasikan sebagai satu dari sepuluh destinasi penyelaman terbaik di Indonesia. Sejak ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan pada 2014 lalu, destinasi ini semakin ramai dikunjungi, namun dibalik itu semua ada permasalahan serius yang mengancam kelestarian karang dan biota laut. Tidak hanya masalah pemutihan karang yang sedang terjadi secara global, prilaku tidak simpatik para pengunjung yang tidak mematuhi aturan juga menjadi ancaman nyata.

Tidak hanya masalah pemutihan karang, prilaku buruk pengunjung juga menjadi ancaman kelestarian karang

Tidak hanya masalah pemutihan karang, prilaku buruk pengunjung juga menjadi ancaman kelestarian karang

Beberapa waktu lalu, LSM Coral Triangle Center dan Gahawisri Bali menyusun sebuah aturan sederhana sebagi panduan untuk berinteraksi dengan satwa laut. Dikutip dari laman www.kkji.kp3k.kkp.go.id, ada sejumlah prilaku dasar yang tidak diizinkan selama melakukan penyelaman ataupun snorkeling. Aturan ini berlaku baik untuk operator hingga wisatawan. Aturan paling sederhana adalah untuk tidak menginjak terumbu karang, menjaga jarak aman dengan biota laut, tidak memberi makan biota laut, tidak membuang sampah atau limbah ke laut. Berikutnya tidak menyentuh biota laut ketika berenang atau menyelam. Fakta di lapangan menunjukkan banyak wisatawan yang hanya sekedar ingin selfi memaksa untuk memegang biota tertentu seperi mola-mola dan pari manta.

John Richard Chapman, salah satu instruktur penyelaman dari Professional Association of Diving Instructors atau PADI mengakui masih banyak pengunjung dan penyelam yang asal-asalan tanpa mengindah kode etik interaksi. Ia juga menegaskan, pemandu selam memiliki peran besar untuk memberi arahan dan aturan yang jelas bagi pengunjung sebelum melakukan aktivitas.

‘’Sederhana saja cukup tidak menginjak terumbu karang dan tetap mematuran kode etik menyelam. Selebihnya, tidak membuang sampah di laut,” jelas John, Senin kemarin (18/7).

“Ini lah yang menjadi tugas berat bagi para pengusaha diving dan pemandu selam untuk memberi briefing atau informasi tentang kode etik penyelaman agar kerusakan bisa diminimalisir. Biasanya snorkeler menyangka karang yang seperti batu besar itu mati, bisa diinjak. Padahal tidak, karang itu masih hidup,” imbuh John yang juga dive master di World Diving Lembongan.

Ketua Lembongan Marine Asosiation ( LMA ), Gede Sukayasa yang dikonfirmasi menegaskan segenap komponen operator penyelaman dan pengelola aktivitas laut memiliki komitmen untuk tetap menjaga kelestarian bahari dengan segala keindahan yang ada. Pihaknya mengakui setiap bulan digelar pertemuan untuk berbagi informasi saling mengingatkan kode etik yang ada termasuk tidak membuang sampah dilaut serta tidak menangkap biota yang dilindungi.

“Diperlukan peran semua pihak untuk ikut menjaga kawasan wisata bahari Nusa Penida, apalagi Nusa Penida sudah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia,” tandasnya.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi